Setelah wafatnya istri dan pamannya, yang selalu menjadi pembela utama dari ancaman para kafir Quraisy, beban Rasulullah saw dalam berdakwah menyebarkan agama Islam makin berat. Kemudian Rasulullah saw melanjutkan dakwahnya ke Madinah, peristiwa hijrah Rasulullah saw dari Mekah ke Madinah dengan perencanaan yang sangat matang. Kaum muslimin diperintahkan terlebih dahulu untuk menuju ke Madinah tanpa membawa harta benda yang selama ini menjadi milik mereka. Sementara Rasulullah saw dan beberapa sahabat merupakan orang terakhir yang hijrah ke Madinah, hal itu dilakukan mengingat begitu sulitnya beliau keluar dari pantauan kaum kafir Quraisy.
Kehadiran Rasulullah saw dan kaum Muhajirin (sebutan bagi pengikut Rasulullah saw yang hijrah dari Mekah ke Madinah) mendapat sambutan hangat dari penduduk Madinah (kaum Anśar), mereka memperlakukan seperti saudara mereka sendiri dan penuh rasa hormat selayaknya seorang tuan rumah menyambut tamunya.
Strategi Rasulullah saw mempersaudarakan Muhajirin dan Anśar untuk mengikat setiap pengikut Islam yang terdiri atas berbagai macam suku dan kabilah ke dalam suatu ikatan masyarakat yang kuat,senasib,seperjuangan dengan semangat persaudaraan Islam. Rasulullah saw mempersaudarakan Abu Bakar dengan Kharijah Ibnu Zuhair Ja'far, Abi Talib dengan Mu'az bin Jabal, Umar bin Khattab dengan Ibnu bin Malik dan Ali bin Abi Talib dipilih untuk menjadi saudara beliau sendiri. Setiap kaum Muhajirin dipersaudarakan dengan kaum Anśar dan persaudaraan itu dianggap seperti saudara kandung sendiri. Setelah kaum Muhajirin menetap di Madinah, Rasulullah saw mulai mengatur strategi untuk membentuk masyarakat Islam yang terbebas dari ancaman dan tekanan (intimidasi). Pertalian hubungan keluargaan dipererat dengan mengadakan perjanjian untuk saling membantu antara umat muslimin dan nonmuslimin. Rasulullah saw juga mulai menyusun strategi ekonomi, sosial, serta dasar dasar pemerintah Islam. Meskipun banyak rintangan dan hambatan dalam kehidupan yang menyebabkan kesulitan ekonomi, namun mereka selalu sabar dan tabah dalam menghadapinya dan tidak berputus asa, dan Rasulullah saw dalam menciptakan suasana agar nyaman dan tenteram di kota Madinah, dibuatlah perjanjian dengan kaum Yahudi. Dalam perjanjiannya di tetapkan dan diakui hak kemerdekaan tiap-tiap golongan untuk memeluk dan menjalankan agamanya. Dasar-dasar kehidupan bermasyarakat yang dibangun Rasulullah saw adalah membangun masjid, membangun ukhuwah Islamiyah, menjalin persabahatan dengan pihak-pihak lain yang nonmuslim.
Berkembangnya dakwah Rasulullah saw di Madinah menimbulkan kekhawatiran orang-orang Quraisy. Karena itu, terjadilah Perang Badar pada 8 Ramadhan tahun ke-2 Hijrah. Pada tahun ke-5 Hijrah, terjadilah Perang Ahzab/Khandaq. Meskipun Mekah telah ditaklukkan, tetapi Bani Taqif di Taif dan Bani Hawazin diantara Mekah dan Taif tidak mau tunduk. Bahkan, mereka menyerang Mekah dan menuntut bela atas perusakan berhala-berhala. Dan perang terakhir yaitu Perang Tabuk perang ini melawan Raja Gasan yang telah membunuh sadis utusan yang membawa surat Rasulullah saw, terjadi di Mu'tah dan Rasulullah saw datang membawa 3.000 pasukan.
Orang-orang Mekah telah membatalkan secara sepihak Perjanjian Hudaibiyah. Oleh karena itu, Rasulullah saw segera berangkat ke Mekah dengan 10.000 orang tentara. Tanpa kesulitan, Rasulullah saw dan pasukannya memasuki Mekah dan berhala-berhala di seluruh sudut negeri dihancurkan. Setelah itu Rasulullah saw berkhutbah memberikan pengampunan bagi orang-orang Quraisy. Peristiwa ini dikenal dengan Fatdu Makkah (penaklukan Mekah).
Berkembangnya dakwah Rasulullah saw di Madinah menimbulkan kekhawatiran orang-orang Quraisy. Karena itu, terjadilah Perang Badar pada 8 Ramadhan tahun ke-2 Hijrah. Pada tahun ke-5 Hijrah, terjadilah Perang Ahzab/Khandaq. Meskipun Mekah telah ditaklukkan, tetapi Bani Taqif di Taif dan Bani Hawazin diantara Mekah dan Taif tidak mau tunduk. Bahkan, mereka menyerang Mekah dan menuntut bela atas perusakan berhala-berhala. Dan perang terakhir yaitu Perang Tabuk perang ini melawan Raja Gasan yang telah membunuh sadis utusan yang membawa surat Rasulullah saw, terjadi di Mu'tah dan Rasulullah saw datang membawa 3.000 pasukan.
Orang-orang Mekah telah membatalkan secara sepihak Perjanjian Hudaibiyah. Oleh karena itu, Rasulullah saw segera berangkat ke Mekah dengan 10.000 orang tentara. Tanpa kesulitan, Rasulullah saw dan pasukannya memasuki Mekah dan berhala-berhala di seluruh sudut negeri dihancurkan. Setelah itu Rasulullah saw berkhutbah memberikan pengampunan bagi orang-orang Quraisy. Peristiwa ini dikenal dengan Fatdu Makkah (penaklukan Mekah).
